Almarhum KH Anwari Sirajd dikenal dengan sosoknya yang sederhana,
bersahaja dan bijaksana. Penuh dengan kelembutan serta tutur katanya
yang halus merupakan ciri khususnya bila berhadapan dan memberikan
wejangan berupa ceramah dan nasihat kepada ribuan santrinya di Pondok
Sepuh.
Ulama besar ini konon dikenal dengan kedigdayaan ilmu karomahnya
setelah menjalani pendidikan Islam di Kota Mekkah bersama Almarhum Mbah
Dahlar yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan Ponpes Watu Congol,
Gunungpring, Muntilan, Magelang dan Almarhum KH Hasyim Ashari pimpinan
Ponpes Tebu Ireng, Jombang.
Gambar.1. Depan Ky. Dalhar Watucongol. Belakang Ky. Siroj Payaman
Usai berguru ilmu kitab tafsir dan hadis Al Bukhori sohih secara
langsung selama tujuh tahun, ketiga ulama besar itu langsung naik daun.
Mereka langsung dikenal sebagai kiai yang pamornya menggemparkan di
seluruh Indonesia, terutama dikalangan pejuang.
Almarhum Kiai Anwari Sirajd sendiri namanya harum saat era perjuangan
melawan kolonial Belanda. Kedigdayaan ilmu karomah yang dimilikinya
dipercaya sebagai senjata ampuh untuk melawan Belanda, selain itu juga
dipercaya dapat mencegah bencana letusan dan erupsi Gunung Merapi.
Saat itu ia diberikan gelar kehormatan Romo Agung oleh Belanda,
karena berhasil menghalau awan panas dan lahar erupsi Gunung Merapi yang
mengancam wilayah Kota Magelang yang pada zaman itu menjadi markas dan
pusat Pemerintahan Gubernur Belanda.
“Belanda berikan Gelar Romo Agung dulu saat Merapi meletus. Belanda
ingin halau lahar, minta doa ke Mbah Irsajd, doanya kabul tidak terjang
Kota Magelang. Sehingga kejadian itu dikaitkan dengan rutinitas
pembacaan Kitab Bukhori Sokhi yang dikenal dengan pengajian Sema’an
Bukhoren membaca kitab Bukhori yang setiap Ramadan satu bulan penuh
digelar di Masjid Agung, alun-alun Kota Magelang sampai sekarang,” kata
KH Mafatikhul Huda, salah seorang cicit Almarhum KH Anwari Sirajd.
Menurutnya, keampuhan ilmu karomah yang dimiliki Almarhum terbukti
saat terjadi agresi militer Belanda I. Saat itu Masjid Agung Payaman
diserang Belanda pada tahun 1948 dengan membabi buta. Belanda selalu
mencari sosok KH Sirajd yang dikenal sebagai pimpinan para santri
pejuang.
Pencarian dilakukan mulai masjid sampai di beberapa kampung di
Payaman, Magelang. Namun, hanya pohon-pohon sekitar yang terbakar karena
KH Sirajd dan santri yang sempat bersembunyi di bawah masjid berhasil
melarikan diri ke Desa Canden yang jaraknya 10 kilometer dari Masjid
Agung Payaman, Magelang.
Kemudian, sebelum Serangan Umum 1 Maret 1949, para santri dibekali
oleh bambu runcing sebelum melakukan penyerangan ke Ambarawa. KH Subkhi
pendiri Ponpes Bambu Runcing, Parakan, Temanggung yang saat itu masih
menjadi santri Mbah Sirajd diperintahkan mencari bambu
sebanyak-banyaknya dan diruncingkan untuk menjadi senjata melawan
Belanda dalam Serangan Umum 1 Maret.
“Saat itu Mbah Sirajd memberikan bambu-bambu itu dengan doa-doa dan
membawa kemenangan meski tentara Belanda memiliki senjata lengkap dan
otomatis,” kata dia.
KH Subkhi kemudian memberi nama pondok pesantren yang didirikannya
dengan nama Ponpes Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah yang
masih berdiri kokoh dan eksis sampai sekarang. Kini, di Ambarawa berdiri
kokoh sebuah monumen sebagai simbol agresi militer dengan nama Museum
Palagan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Pada masa penjajahan, hanya KH Siraj yang diberikan kebebasan oleh
Belanda untuk berdakwah ke berbagai daerah. Hal itu karena Belanda
merasa segan dengan Karomah dan kesaktian yang dimiliki KH Siraj.
“Romo KH Siraj orang yang membawa Payaman ini dari jahiliyah menjadi
madaniah. Dan setelah Belanda kalah, maka mulai digelarlah tradisi
syawalan, atau dikenal bodo kupat, sejak 1950-an.” tutur Imam Masjid
Agung Payaman yang juga sesepuh sekaligus cucu dari KH Siraj, Muhammad
Tibyan (57). KH Siraj sendiri meninggal di usia 70 tahun pada tahun 1959
MAKAM MBAH SIROJ PAYAMAN
Makam mbah Siroj Payaman terletak di belakang Masjid Agung Payaman.
Sebelum akhir hayat beliau pernah berwasiat pada salah satu putrinya bernama Zahro agar jasadnya dimakamkan di belakang masjid karena pada suatu kali beliau pernah bertemu dengan seorang auliya' yang telah dimakamkan persis makam beliau sekarang ini. beliau wafat hari Kamis Pahing 20 Agustus 1959 M / 15 Safar 1379 H.
Gambar.2. Makam Ky Siroj Payaman
ERANG ERANG SEKAR PANJANG
Satu hal yang perlu dicatat adalah karya tulis beliau yang konon merupakan inti sari dari kitab Ihya Ulumuddin, karya yang berujud not-not sya'ir arab ( bahr) diciptakan tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. dibaca dan santri beliau mencatatnya. dalam memahami kitab dan mengubah dari natsar ( yang bukan bentuk bait ) kedalam bentuk sya'ir secara spontan adalah suatu prestasi tersendiri untuk beliau. ERANG-ERANG SEKAR PANJANG terdiri dari 3 juz berhuruf pegon ( huruf arab dan berbahasa jawa ) berisi falsafah dan hakikat kehidupan.
Bismillahirokhmaanirokhim
Laa illaha illaAllah - Almalikul khakul mubin
Muhammadur rosullah - hi sodikul wa'dil amin
---Bab Banget Bungah Ono Dunyo---
Ojo siro banget-banget
Gon mu bungah ono dunyo
Malaikat juru pati
Nglirak-nglirek maring siro
Olai ngelirik malaikat
Arep njabut nyowo siro
Gone Njabut angenteni
Dawuhe kang Moho Mulya
Sak wuse di dawuhi
Banjur tandang karo kondo
Aku iki ming sak deromo
Koe ora keno semoyo
Artinya
"Bab Senang Terhadap Dunia"
Jangan kamu begitu | Terlalu senang di dunia
Malaikat pencabut nyawa | Melirik terhadapmu
Malaikat melirikmu | Mau mencabut nyawamu
Mau mencabut menunggu | Perintah Yang Maha Mulya
Sesudah di perintah | Langsung siap dan berucap
Aku ini hanya sekedar | Kamu tidak bisa berucap
Kesimpulannya.
"Jangan terlalu mengejar dunia untuk bersenang-senang sebab di dunia
ini hanya sebentar kalo istilah orang-orang terdahulu 'mung mampir
ngombe.' Bagi orang islam seharusnya menjalankan perintahNya dan
Menjauhi semua Larangannya, karena yang namanya Mati itu urusan Allah
yang bisa datang sewaktu-waktu. Sang malaikat maut sudah siap
sewaktu-waktu menjabut nyawa. Tak perduli dimana pun dan kapanpun.
Bersyukur bila mati dalam keadaan Khusnul khotimah tapi kalo mati dalam
keadaan yang kurang baik (su'ul khotimah) naudzubilahimindzalik. Saudara
muslim hidup ini cuma sementara, karena ada hidup yang lebih kekal
setelah ini di akhirat sana."
BERSAMBUNG..



sangat bermanfaat
BalasHapusbAGUS Sekali, mohon izin share
BalasHapus